Pendahuluan

Bagi para petani yang terdapat di pedesaan, sarana dan prasarana komunikasi relati dapat terakses. Misalnya sudah terdapat rasio atau transistor kecil hingga televisi di rumah-rumah penduduk. Instrumen-instrumen tersebut dapat mendukung terdedahnya warga desa akan informasi yang bisa saja mengubah taraf hidup mereka menjadi lebih baik. Setiap desa/kelurahan di era orde baru pada tahun 80an difasilitas pesawat televisi dan dipancarkan siaran program perdesaan/pembangunan pertanian dua kali setiap minggunya melalui TVRI. Kini Indonesia telah memiliki cakupan TV yang lebih baik, sudah meningkat stasiun siaran dan jumlah stasiun penerima, termasuk bermunculannya puluhan televisi swasta (nasional dan lokal) yang turut menyemarakkan penyampaian pesan pembangunan dengan porsi beragam dan minim (Saleh, 2006).

Dari pernyataan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk membuka pembangunan yang berasal dari desa, peran media massa dalam melancarkan proses komunikasi sangat penting apalagi dalam menjangkau masyarakat desa yang jauh dari pusat ibukota dan jumlahnya relatif banyak tersebar diberbagai daerah.

Pengertian Komunikasi Massa

Menurut Ruben (1992) dalam Sugiah (2010) komunikasi massa adalah suatu proses komunikasi yang tergolong dimediasi oleh media massa. Produk-produk informasi diciptakan dan didistribusikan oleh suatu organisasi komunikasi massa untuk dikonsumsi oleh khlayak. Namun menurut Wright (1985) dalam Sugiah (2010) pengertian komunikasi massa tidaklah sesederhana itu, komunikasi massa merupakan jenis khusus dari komunikasi sosial yang dalam pengoperasiannya melibatkan tiga aspek penting, yaitu:

  • Sifat khalayak. Wright menyatakan bahwa komunikasi massa ditujukan kepada khalayak yang heterogen dan anonym. Heterogen dalam hal karakteristik sosial, ekonomi, maupun politik. Anonim berarti bahwa anggota-anggota khalayak secara individual tidak dikenal atau tidak diketahui oleh komunikatornya.
  • Sifat bentuk komunikasi. Komunikasi massa dapat memiliki karakteristik sebagai komunikasi yang umum, seringkali dapat menjangkau khalayak secara serempak, dalam waktu cepat dan selintas.
  • Sifat komunikator. Dalam komunikasi massa bekerja dalam sebuah organisasi yang kompleks, dengan pembagian kerja yang ekstensif dan penggunaan sejumlah biaya produksi yang relative lebih besar, serta dengan kompleksitas birokrasi yang relative tinggi dalam jaringan kerjanya.

 

Karakteristik komunikasi massa ditinjau dari unsur utamanya

Unsur komunikasi berdasar teori yang  dikemukaan oleh  Rogers dan Shoemaker  disebut SMCRE linear. Dalam model tersebut dijelaskan bahwa dalam suatu komunikasi itu berlangsung antara sumber (komunikator) menyampaikan pesan (massage) melalui media (channel) kepada komunikator yang merespon pesan dan memberikan efect kepada dirinya. Dalam aplikasi komunikasi massa terdapat beberapa karateristik yang khas pada setiap unsur komunikasi tersebut. Komunikasi ini merupakan komunikasi terorganisasi dimana komunikatornya berupa organisasi yang kompleks. Sedangkan komunikan yang terlibat dalam komunikasi ini bersifat heterogen, berjumlah besar dan anonim sehinga sangat dimungkinkan antara komunikator dan komunikan tidak ada hubungan atau bahkan tidak saling mengenal. Pesan yang ada dalam komunikasi ini bersifat umum sehingga mudah diterima khalayak, berjalan serempak dan selintas. Untuk bisa mencapai tujuan ini maka komunikasi massa biasanaya berbasis media sehingga penyebaran informasi (pesan)lebih cepat dan merata. Pesan yang disampaikan biasanya tidak berat dan tidak susah untuk diingat. Pesan dalam komunikasi masssa memiliki respon yang tertunda, dam efek di anggap sama kepada semua komunikan karena pesan yang disampaikan dianggap sama oleh semua komunikan.

Model komunikasi massa yang relevan

Model komunikasi massa yang relevan dengan keadaan masyarakat desa saat ini adalah Model Kartz dan Lazarsfeld atau model alir dua tahap (two step flow model) .

 

 

 

Model ini relevan mengingat ada beberapa masyarakat desa Indonesia yang belum dapat menjangkau penyajian informasi dari media massa. Serta kuatnya budaya tradisional yang percaya terhadap pemuka adat di daerahnya maka pemuka adat tersebut bertindak sebagai Opinion leader. Opinion leader  memiliki pengaruh besar atas angggota-anggota khalayak yang lain, baik dalam membentuk opini maupun proses membuat keputusan karena frekuensi komunikasi yang lebih intensif. Selain itu opinion leader juga mampu mempengaruhi sikap atau prilaku nyata individu masyarakat. Pada tahap pertama media massa atau sumber informasi memberikan pesan kepada pemuka adat maka terjalin komunikasi massa kemudian pada tahap kedua pemuka adat membantu memberikan pengarahan pada khalayak melalui kominikasi antar pribadi yang lebih informal. Peran aktif dari opinion leader memberikan informasi kepada khalayak secara face to face sangat penting khususnya pada masyarakat yang sedang membangun.

Di kalangan masyarakat desa, selain pemimpin formal juga sering dijumpai pemimpin/tokoh informal yangdijadikan sebagai pemuka pendapat (opinion leaders).

Menurut Rogers dalam Saleh (2006) mereka sering menjadi pusat informasi dan karenanya menjadi tempat bertanya dan meminta pendapat dari warga desa tentang berbagai hal, khususnya yang menyangkut kegiatan dan kebutuhan masyarakat desa sehari-hari.Dalam konteks adopsi inovasi dikemukakan bahwa pemimpin informal ini adalah orang-orang kunci (key person) yang berpengaruh di desa, terhadap siapa warga desa berpaling dalam ide-ide baru (Havelock et al., 1971 dalam Saleh, 2006). Orang-orang ini biasanya mempunyai pengaruh yang besar karenapengakuan kredibilitasnya mengenai hal-hal tertentu yang diakui oleh para anggota masyarakatnya. Mereka ini juga berfungsi sebagai penjaga gawang (gate keeper) terhadap inovasi dan nilai-nilai yang masuk ke dalam masyarakat perdesaan tersebut (Rogers, 1995; Jahi, 1993; Goldberg dan Larson, 1985 dalam Saleh, 2006).

 

Kesimpulan

Komunikasi massa yang relevan di masyarakat desa dapat terjadi seperti pemuka pendapat/ pamong desa mendapatkan informasi dari media cetak ataupun media suara, seperti koran maupun televisi. Lalu pamong desa tersebut menyebarkan informasi yang diperoleh ke penduduk sekitar sehingga mereka memperoleh informasi yang didapat.

Dikisahkan, suatu hari ada seorang anak muda yang tengah menanjak karirnya tapi merasa hidupnya tidak bahagia. Istrinya sering mengomel karena merasa keluarga tidak lagi mendapat waktu dan perhatian yang cukup dari si suami. Orang tua dan keluarga besar, bahkan menganggapnya sombong dan tidak lagi peduli kepada keluarga besar. Tuntutan pekerjaan membuatnya kehilangan waktu untuk keluarga, teman-teman lama, bahkan saat merenung bagi dirinya sendiri.

Hingga suatu hari, karena ada masalah, si pemuda harus mendatangi salah seorang petinggi perusahaan di rumahnya. Setibanya di sana, dia sempat terpukau saat melewati taman yang tertata rapi dan begitu indah.

“Hai anak muda. Tunggulah di dalam. Masih ada beberapa hal yang harus Bapak selesaikan,” seru tuan rumah. Bukannya masuk, si pemuda menghampiri dan bertanya, “Maaf, Pak. Bagaimana Bapak bisa merawat taman yang begitu indah sambil tetap bekerja dan bisa membuat keputusan-keputusan hebat di perusahaan kita?”

Tanpa mengalihkan perhatian dari pekerjaan yang sedang dikerjakan, si bapak menjawab ramah, “Anak muda, mau lihat keindahan yang lain? Kamu boleh kelilingi rumah ini. Tetapi, sambil berkeliling, bawalah mangkok susu ini. Jangan tumpah ya. Setelah itu kembalilah kemari”.

Dengan sedikit heran, namun senang hati, diikutinya perintah itu. Tak lama kemudian, dia kembali dengan lega karena mangkok susu tidak tumpah sedikit pun. Si bapak bertanya, “Anak muda. Kamu sudah lihat koleksi batu-batuanku? Atau bertemu dengan burung kesayanganku?”

Sambil tersipu malu, si pemuda menjawab, “Maaf Pak, saya belum melihat apa pun karena konsentrasi saya pada mangkok susu ini. Baiklah, saya akan pergi melihatnya.”

Saat kembali lagi dari mengelilingi rumah, dengan nada gembira dan kagum dia berkata, “Rumah Bapak sungguh indah sekali, asri, dan nyaman.” tanpa diminta, dia menceritakan apa saja yang telah dilihatnya. Si Bapak mendengar sambil tersenyum puas sambil mata tuanya melirik susu di dalam mangkok yang hampir habis.
Menyadari lirikan si bapak ke arah mangkoknya, si pemuda berkata, “Maaf Pak, keasyikan menikmati indahnya rumah Bapak, susunya tumpah semua”.

“Hahaha! Anak muda. Apa yang kita pelajari hari ini? Jika susu di mangkok itu utuh, maka rumahku yang indah tidak tampak olehmu. Jika rumahku terlihat indah di matamu, maka susunya tumpah semua. Sama seperti itulah kehidupan, harus seimbang. Seimbang menjaga agar susu tidak tumpah sekaligus rumah ini juga indah di matamu. Seimbang membagi waktu untuk pekerjaan dan keluarga. Semua kembali ke kita, bagaimana membagi dan memanfaatkannya. Jika kita mampu menyeimbangkan dengan bijak, maka pasti kehidupan kita akan harmonis”.

Seketika itu si pemuda tersenyum gembira, “Terima kasih, Pak. Tidak diduga saya telah menemukan jawaban kegelisahan saya selama ini. Sekarang saya tahu, kenapa orang-orang menjuluki Bapak sebagai orang yang bijak dan baik hati”.

==============================================

Dapat membuat kehidupan seimbang tentu akan mendatangkan keharmonisan dan kebahagiaan. Namun bisa membuat kehidupan menjadi seimbang, itulah yang tidak mudah.
Saya kira, kita membutuhkan proses pematangan pikiran dan mental. Butuh pengorbanan, perjuangan, dan pembelajaran terus menerus. Dan yang pasti, untuk menjaga supaya tetap bisa hidup seimbang dan harmonis, ini bukan urusan 1 atau 2 bulan, bukan masalah 5 tahun atau 10 tahun, tetapi kita butuh selama hidup. Selamat berjuang!
Sumber : andriewongso.com

Suatu pemahaman baru terhadap masyarakat pedesaan sedang dibutuhkan, seiring dengan perubahan di pedesaan dan perkotaan, baik di dalam Indonesia maupun dalam ranah global. Menyadari terdapat masih adanya ketimpangan, maka realitas sosial tersebut perlu didalami secara kritis. Yaitu memahami struktur kesenjangan, diikuti upaya menuju keadilan melalui pengembangan masyarakat. Jaringan hubungan semua pihak akan dijalin melalui hubungan setara dengan aksi komunikatif.

Departemenisasi yang berjalan dengan proses cukup panjang pada akhirnya dapat menetapkan departemen baru di IPB beserta mandatnya yang akan diemban pada masa mendatang. Salah satu departemen yang di-tetapkan yakni Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (KPM). Benih kehadiran departemen ini mulai ditanam pada tahun 1947, yakni saat didirikannya Faculteit voor Landbouwwetenschappen (Fakultas untuk Ilmu–ilmu Pertanian) dengan dua jurusan yaitu jurusan pertanian dan kehutanan. Fakultas ini semula bernaung dibawah Universiteit Van Indonesia. Benih ini mulai bertunas pada tahun 1960 yakni saat didirikannya Fakultas Pertanian-Universitas Indonesia dengan tiga departemen, yakni Departemen Ilmu-ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Departemen Pengetahuan Alam dan Departemen Kehutanan. Pada 1 September 1963, Institut Pertanian Bogor berdiri, Departemen Sosek mulai berkembang secara mantap dan pasti. Pada tahun 2005 Departemen Sosek terbagi menjadi beberapa departemen seiring proses departe-menisasi kebijakan IPB dan salah satunya adalah departemen KPM.

Departemen KPM IPB dibentuk untuk pengembangan keilmuan yang mampu ”mengintegrasikan” sejumlah orang dari kelompok Ilmu-Ilmu Sosial dengan latar belakang cabang ilmu yang berbeda dan dengan ”membawa” beberapa aktivitas pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan masyarakat dari departemen yang sebelumnya ada. Oleh karena itu departemen ini dibentuk berdasarkan keragaman personal dan aktivitas yang berbeda sehingga pada tahap awal pem-bentukan departemen ini secara filosofis ”ditopang” oleh mazhab keilmuan yang beragam. Dalam departemen ini dibangun suatu proses komunikasi antar orang, keilmuan, dan antar-mazhab (paradigma) keilmuan untuk membentuk dan membangun suatu departemen dengan landasan filosofis yang tegas dan berwatak.

Berdasarkan Surat Keputusan Rektor Institut Pertanian Bogor Nomor: 001/K13/PP/2005 Tanggal 10 Januari 2005, mandat Departemen Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (KPM) Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB.

MAYOR S1

Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

MINOR S1

  1. Komunikasi
  2. Pengembangan Masyarakat
  3. Ekologi Politik

 

Sumber : http://fema.ipb.ac.id/index.php/departemen/dep-sains-kpm/

Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

KPM
IPB Badge
FEMA-ku :)
IPB Badge
Categories
Bookmarks